Spindo (ISSP) Genjot Sustainability Lewat Penambahan PLTS untuk Tekan Biaya Produksi

Spindo (ISSP) Genjot Sustainability Lewat Penambahan PLTS untuk Tekan Biaya Produksi
Ilustrasi. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk telah memasang PLTS di sejumlah pabrik sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional. (KONTAN/Ridwan Mulyana)
Senin, 29 Juni 2026 | 10:31 WIB

Reporter: Shintia Rahma Islamiati

Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - PASURUAN. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) memperkuat komitmennya terhadap praktik industri berkelanjutan dengan meningkatkan pemanfaatan energi baru terbarukan di fasilitas produksinya.

Direktur Operasional Spindo, Nico Gunawan mengatakan, perusahaan telah memasang pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di sejumlah pabrik sebagai bagian dari strategi efisiensi operasional dan implementasi prinsip keberlanjutan (sustainability).

“Saat ini Spindo sudah melakukan pemasangan PLTS dengan total kapasitas yang sudah terpasang di seluruh fasilitas produksi mencapai sekitar 4 megawatt peak (MWp),” ujar Nico saat ditemui di Unit 4 Spindo Pasuruan, Rabu (24/6/2026).

Menurutnya, kapasitas tersebut akan terus ditingkatkan pada tahun ini melalui penambahan sekitar 6 MWp di Unit 5 dan Unit 7. Dengan demikian, total kapasitas PLTS Spindo diproyeksikan mencapai sekitar 10 MWp pada akhir tahun.

Baca Juga: Pabrik Unit 7 Spindo Segera Beroperasi, Kapasitas Produksi Diproyeksi Meningkat

Nico menjelaskan, penggunaan energi surya tidak hanya menjadi bagian dari komitmen perusahaan terhadap pengurangan emisi, tetapi juga memberikan manfaat langsung terhadap efisiensi biaya operasional.

“Biaya energi akan lebih efisien. Dampaknya tentu akan membantu kami menjaga harga produk agar tetap kompetitif di pasar,” katanya.

Selain mengembangkan energi terbarukan, Spindo juga melakukan berbagai upaya peningkatan efisiensi di lini produksi. Salah satunya melalui investasi mesin berbasis robotik di Unit 7 yang akan memangkas waktu pergantian ukuran pipa dari satu hingga dua hari menjadi paling lama dua jam.

Otomatisasi tersebut juga memungkinkan proses penyetelan mesin dilakukan secara digital sehingga limbah produksi (waste) dapat ditekan secara signifikan.

“Kalau sebelumnya tingkat waste sekitar 4%-5%, dengan mesin baru kami targetkan bisa di bawah 1%,” ujar Nico.

Baca Juga: Spindo (ISSP) Dukung Hilirisasi Lewat Pasokan Pipa untuk Proyek Infrastruktur & Migas

Di tengah persaingan produk impor, khususnya dari China, Nico menilai efisiensi biaya menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya saing industri dalam negeri.

Menurutnya, pemanfaatan energi baru terbarukan menjadi salah satu strategi perusahaan agar biaya produksi lebih terkendali tanpa mengorbankan kualitas produk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News