KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hilirisasi industri bauksit telah menjadi agenda penting bagi pemerintah untuk mengoptimalkan nilai tambah dari komoditas tersebut sekaligus mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Program ini juga sejalan dengan posisi Indonesia yang merupakan salah satu pemilik cadangan bauksit terbesar di dunia.
Mengutip dokumen Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis Komoditas Bauksit 2023-2040 yang dipublikasikan Kementerian Investasi/BKPM, cadangan bauksit Indonesia menduduki posisi nomor 6 di dunia dengan total mencapai 1,2 miliar ton per 2022. Dari situ, hilirisasi produki turunan dari bauksit yang memiliki nilai tambah dan dampak ekonomi yang lebih signifikan perlu dioptimalkan.
Terlebih lagi, tren industri global menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap produk aluminium dapat mencapai 243,98 juta ton per tahun pada 2050 dengan konsumsi terbesar pada sektor transportasi dan konstruksi.
Seiring dengan perkembangan industri kendaraan listrik dan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, prioritas industri sasaran hilirisasi bauksit adalah industri panel surya dan industri komponen kendaraan listrik. Selain dua sektor prioritas industri tersebut, Indonesia juga dapat mengembangkan industri hilir bauksit lainnya yang potensial baik di pasar domestik maupun global seperti industri kemasan makanan, komponen elektronika, dan material bangunan.
Baca Juga: Industri Baja Hadapi Tekanan Impor di Tengah Peluang Pasok Proyek Hilirisasi Migas
Masih mengacu data peta jalan hilirisasi bauksit, pemerintah memiliki target akumulasi investasi hilirisasi bauksit mencapai US$ 48,89 miliar selama periode 2023--2040. Pada periode yang sama, hilirisasi bauksit ditargetkan dapat berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) secara akumulatif sebanyak US$ 36,99 miliar. Jumlah tenaga kerja yang terserap dari hilirisasi bauksit pada 2023-2040 diproyeksikan ada di kisaran 766.807 orang.
Adapun untuk saat ini, Indonesia tengah gencar menggelar hilirisasi bauksit menjadi alumina, baik berupa chemical grade alumina (CGA) maupun smelter grade alumina (SGA). Investasi di sektor ini pun terus menunjukkan peningkatan positif.
Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp 53,1 triliun pada 2025 atau melesat 143,58% year on year (yoy) dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp 21,8 triliun. Berlanjut ke kuartal I-2026, realisasi investasi hilirisasi bauksit tercatat sebesar Rp 13,7 triliun atau meningkat 6,70% yoy dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yaitu Rp 12,84 triliun.
Sementara itu, bila merujuk data gabungan infografis Akselerasi Hilirisasi Komoditas Bauksit dari Kementerian Investasi/BKPM dan riset Kontan, sejauh ini terdapat belasan perusahaan yang sedang dan telah membangun fasilitas produksi untuk hilirisasi komoditas tersebut, baik berupa produk CGA, SGA, aluminium ingot, aluminium alloy, hingga anode carbon.
Dari deretan perusahaan tersebut, tiga di antaranya merupakan bagian dari Holding Pertambangan BUMN (MIND ID), yaitu PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).
Inalum telah mengoperasikan smelter di Kuala Tanjung, Sumatera Utara yang dapat menghasilkan 275.000 ton aluminium per tahun.
Di sisi lain, ICA merupakan pabrik CGA satu-satunya yang ada di Indonesia dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Pabrik yang berlokasi di Tayan, Kalimantan Barat tersebut dimiliki 99,9989% sahamnya oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). CGA yang dihasilkan oleh pabrik tersebut ditujukan sebagai bahan baku industri manufaktur seperti kimia, bata tahan api, keramik, dan lain sebagainya.
Adapula BAI merupakan perusahaan patungan antara ANTM dan Inalum dengan porsi kepemilikan saham masing-masing 40% dan 60%. BAI telah menuntaskan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas 1 juta ton per tahun sejak 2025, dan telah memasuki fase operasional secara penuh pada 2026.
Direktur Utama Borneo Alumina Indonesia Darwin Saleh Siregar mengatakan, SGAR merupakan salah satu proyek strategis dalam ekosistem MIND ID untuk menutup mata rantai indusri aluminium nasional yang selama ini terputus. Dalam hal ini, SGAR hadir sebagai penghubung komoditas bauksit yang diproduksi oleh ANTM dengan fasilitas smelter aluminium milik Inalum.
Baca Juga: Mengail Peluang dari Hilirisasi Industri
Untuk fase I, proyek SGAR menelan biaya investasi sekitar US$ 831,5 juta yang mana sumber pendanaannya berasal dari ekuitas pemegang saham sekitar 30% dan sisanya 70% berasal dari pinjaman. Seluruh pinjaman tersebut berasal dari skema pinjaman para pemegang saham (shareholder loan).
Sekitar 60% produksi SGA dari fasilitas tersebut dialokasikan untuk memasok kebutuhan bahan baku di smelter Inalum yang berlokasi di Kuala Tanjung, Sumatera Utara. Adapun 40% hasil produksi SGA sisanya dipasarkan ke pelanggan lain, termasuk ke mancanegara seperti China dan India.
"Hampir 95% produk kami digunakan untuk industri aluminium, karena memang produk kami itu adalah Smelter Grade Alumina (SGA). Jadi mayoritas digunakan untuk aluminium smelter," ungkap dia ketika ditemui Kontan, Selasa (14/7/2026).
Dia juga menjelaskan, sekitar 5% produk SGA dari pabrik BAI di Mempawah diserap untuk industri penjernih air dan kimia.
Dari sisi bahan baku, SGAR yang dioperasikan BAI membutuhkan sekitar 3 juta ton sampai 3,2 juta ton washed bauksit untuk menghasilkan 1 ton SGA. Pasokan bahan baku tersebut diperoleh BAI dari Izin Usaha Pertambangan (IUP) ANTM di Tayan, Kalimantan Barat. Untuk ke depannya, pasokan bahan baku direncanakan juga diperoleh dari IUP ANTM lainnya di Toho dan Landak yang masih di kawasan Kalimantan Barat.
Darwin menegaskan, keberadaan SGAR mampu menghilangkan ketergantungan Inalum terhadap impor produk alumina, khususnya SGA. Pengoperasian fasilitas ini juga terbukti mendongkrak nilai tambah komoditas bauksit lantaran telah diolah menjadi produk turunan yang lebih menjanjikan di pasar.
Sebagai gambaran, Darwin menyebut harga alumina saat ini berada di kisaran US$ 340-US$ 400 per ton yang artinya angka tersebut diperkirakan 10-11 kali lebih tinggi dibandingkan dengan harga bijih bauksit.
Agenda hilirisasi bauksit Grup MIND ID dipastikan bakal berlanjut. Saat ini, proyek SGAR Fase II sudah mulai disiapkan dan tengah berada pada tahap Final Investment Decision (FID). Proyek yang berlokasi tepat di sebelah SGAR Fase I tersebut diperkirakan memiliki kebutuhan investasi mencapai US$ 890 juta dengan kapasitas produksi 1 juta ton alumina. Artinya, kelak SGAR Fase I dan Fase II dapat menghasilkan 2 juta ton alumina per tahun.
Proyek SGAR Fase II sendiri dijadwalkan dapat beroperasi secara komersial pada akhir 2028 atau awal 2029 mendatang.
Bersamaan dengan itu, Inalum juga berencana membangun smelter aluminium kedua di Mempawah dengan kapasitas 600.000 ton aluminium per tahun, sehingga total kapasitas terpasang smelter Inalum dapat mencapai 900.000 ton aluminium per tahun.
"Jika kedua smelter Inalum beroperasi, maka kebutuhan alumina domestik diperkirakan mencapai sekitar 1,8 juta ton. Artinya hampir seluruh produksi BAI dari SGAR fase I dan II akan terserap di dalam negeri," terang dia.
Secara terpisah, Corporate Secretary Aneka Tambang Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, agenda hilirisasi telah mendorong ANTM untuk lebih mengoptimalkan portofolio bisnis komoditas bauksit yang dimilikinya. Terbukti, pada 2025 lalu ANTM mampu membukukan peningkatan produksi bauksit mencapai 112% yoy menjadi 2,83 juta wet metric ton (wmt) dan penjualan bauksit juga melesat 157% yoy menjadi 1,89 juta wmt. Dari situ, kontribusi ANTM terhadap produksi bauksit nasional diperkirakan berada di kisaran 8%-9%.
Dari total produksi tersebut, sekitar 2 juta wmt bauksit diserap oleh BAI sebagai bahan baku di pabrik SGAR, sedangkan sekitar 600.000 wmt diserap untuk pabrik ICA sebagai bahan baku CGA.
Secara umum, pengolahan bauksit menjadi alumina, baik CGA maupun SGA, mampu memberikan peningkatan nilai ekonomi dibandingkan penjualan dalam bentuk bijih. Namun, besarnya nilai tambah tidak hanya ditentukan oleh perbandingan harga jual bauksit dan alumina, melainkan juga dipengaruhi oleh tingkat perolehan atau recovery, biaya energi, bahan kimia, logistik, kapasitas produksi, dan kondisi harga pasar.
"Hilirisasi juga memperluas portofolio produk, meningkatkan penyerapan mineral di dalam negeri, memperkuat kepastian pasar bagi produksi tambang, serta mendukung terbentuknya rantai industri alumina dan aluminium nasional," ujar dia kepada Kontan, Kamis (16/7/2026).
Dari sisi kinerja, hilirisasi telah berdampak pada peningkatan penjualan ANTM di segmen bauksit dan alumina sebesar 24% yoy menjadi Rp 879,14 miliar pada kuartal I-2026.
Sebagai bagian dari pemegang saham BAI, ANTM jelas bakal terus bersinergi dengan MIND ID, Inalum, pemerintah, dan mitra strategis untuk pengembangan SGAR Fase II maupun fasilitas aluminium berikutnya. Pelaksanaan proyek tersebut tentu akan mempertimbangkan hasil kajian kelayakan, kepastian kebutuhan bahan baku dan energi, kesiapan infrastruktur, skema pendanaan, dan keekonomian proyek.
Di bagian hulu, ANTM juga terus melakukan kegiatan eksplorasi untuk meningkatkan kualitas data sumber daya dan cadangan bauksit serta menjaga kesinambungan pasokan jangka panjang.
"Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap pada wilayah IUP yang dimiliki Antam dan entitas anak dengan tetap mengacu pada rencana kerja perusahaan, ketentuan perizinan, serta penerapan kaidah penambangan yang baik," pungkas dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News