Ketika Rantai Industri Aluminium Nasional Mulai Saling Terhubung

Ketika Rantai Industri Aluminium Nasional Mulai Saling Terhubung
Ilustrasi. Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah (DOK/MIND ID)
Jumat, 24 Juli 2026 | 17:28 WIB

Reporter: Dimas Andi, Lydia Tesaloni

Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Hilirisasi industri bauksit menjadi salah satu agenda strategis pemerintah untuk mengoptimalkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan cadangan bauksit terbesar di dunia.

Mengacu pada dokumen Peta Jalan Hilirisasi Investasi Strategis Komoditas Bauksit 2023–2040 Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Indonesia memiliki cadangan bauksit sekitar 1,2 miliar ton per tahun 2022 atau terbesar keenam di dunia.

Prospek industri ini juga ditopang oleh meningkatnya permintaan aluminium global. Dalam peta jalan tersebut diproyeksikan kebutuhan aluminium dunia dapat mencapai 243,98 juta ton per tahun pada 2050, terutama didorong oleh sektor transportasi dan konstruksi.

Sejalan berkembangnya industri kendaraan listrik dan energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia, pemerintah memprioritaskan hilirisasi bauksit untuk mendukung industri panel surya dan komponen kendaraan listrik.

Selain itu, peluang pengembangan juga terbuka bagi industri kemasan makanan, komponen elektronika, hingga material bangunan yang memiliki prospek pasar domestik maupun global.

Pemerintah menargetkan akumulasi investasi hilirisasi bauksit mencapai US$ 48,89 miliar sepanjang tahun 2023–2040.

Dalam periode yang sama, program ini diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar US$ 36,99 miliar serta menyerap sekitar 766.807 tenaga kerja.

Saat ini, fokus hilirisasi bauksit di Indonesia masih diarahkan pada pengolahan menjadi alumina, baik chemical grade alumina (CGA) maupun smelter grade alumina (SGA). Investasi di sektor tersebut terus menunjukkan pertumbuhan.

Berdasarkan data Kementerian Investasi/BKPM, realisasi investasi hilirisasi bauksit mencapai Rp 53,1 triliun pada 2025. Melonjak 143,58% secara tahunan (yoy) dibandingkan Rp 21,8 triliun pada 2024.

Tren positif tersebut berlanjut pada kuartal I-2026 dengan realisasi investasi sebesar Rp 13,7 triliun. Naik 6,7% yoy dari Rp 12,84 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Mengacu data Kementerian Investasi/BKPM dan dipadukan dengan riset Kontan, saat ini terdapat belasan perusahaan yang telah maupun sedang membangun fasilitas hilirisasi bauksit. Produk yang dihasilkan beragam. Mulai dari CGA, SGA, aluminium ingot, aluminium alloy, hingga anode carbon.

Baca Juga: Memacu Hilirisasi Bauksit Demi Pengembangan Ekosistem Aluminium Nasional

Di antara perusahaan tersebut, tiga merupakan bagian dari holding Industri Pertambangan Mind Id, yakni PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), dan PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).

Saat ini mengoperasikan smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan kapasitas produksi 275.000 ton aluminium per tahun.

Sementara itu, ICA merupakan produsen CGA di Indonesia dengan kapasitas 300.000 ton per tahun. Pabrik yang berlokasi di Tayan, Kalimantan Barat tersebut dimiliki 99,9989% sahamnya oleh PT Aneka Tambang Tbk (ANTM).

Produk CGA dari fasilitas ini digunakan sebagai bahan baku industri manufaktur, seperti industri kimia, bata tahan api, keramik, dan berbagai aplikasi lainnya.

Adapun BAI merupakan perusahaan patungan antara ANTM dan Inalum dengan komposisi kepemilikan masing-masing 40% dan 60%.

Perusahaan ini telah menyelesaikan pembangunan smelter grade alumina refinery (SGAR) Fase I di Mempawah, Kalimantan Barat, berkapasitas 1 juta ton SGA per tahun pada 2025 dan memasuki tahap operasi penuh pada 2026.

Direktur Utama Borneo Alumina Indonesia, Darwin Saleh Siregar mengatakan, kehadiran SGAR menjadi mata rantai yang selama ini hilang dalam industri aluminium nasional.

Fasilitas tersebut menghubungkan pasokan bauksit dari ANTM dengan smelter aluminium milik Inalum sehingga kebutuhan alumina domestik tidak lagi sepenuhnya bergantung pada impor.

Untuk membangun SGAR Fase I, Borneo Alumina Indonesia,  menggelontorkan investasi sekitar US$ 831,5 juta. Sekitar 30% pendanaan berasal dari ekuitas pemegang saham, sedangkan 70% sisanya berasal dari skema pinjaman pemegang saham (shareholder loan).

Sekitar 60% produksi SGA dari fasilitas tersebut dialokasikan sebagai bahan baku smelter Inalum di Kuala Tanjung. Sementara 40% sisanya dipasarkan kepada pelanggan lain, termasuk ke China dan India.

"Hampir 95% produk kami digunakan untuk industri aluminium karena memang produk kami adalah Smelter Grade Alumina (SGA). Jadi mayoritas digunakan untuk aluminium smelter," ujar Darwin kepada Kontan, Selasa (14/7).

Ia menambahkan, sekitar 5% produksi SGA dimanfaatkan untuk kebutuhan industri penjernih air dan kimia. Dari sisi pasokan, pabrik SGAR membutuhkan sekitar 3 juta–3,2 juta ton washed bauksit untuk menghasilkan 1 juta ton SGA.

Saat ini bahan baku dipasok dari wilayah izin usaha pertambangan (IUP) ANTM di Tayan, Kalimantan Barat. Ke depan, pasokan juga direncanakan berasal dari IUP ANTM di Toho dan Landak.

Menurut Darwin, pengoperasian SGAR telah meningkatkan nilai tambah komoditas bauksit secara signifikan. Harga alumina kini di antara US$ 340–US$ 400 per ton atau sekitar 10–11 kali lebih tinggi dibandingkan harga bijih bauksit.

Baca Juga: Hilirisasi Buka Jalan Industri Penunjang Berkembang

Saat ini, proyek SGAR Fase II  memasuki tahap final investment decision (FID). Proyek dengan nilai investasi sekitar US$ 890 juta tersebut akan menambah kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun, sehingga total kapasitas SGAR mencapai 2 juta ton per tahun.

SGAR Fase II ditargetkan mulai beroperasi secara komersial pada akhir 2028 atau awal 2029.

Pada saat yang sama, Inalum berencana membangun smelter aluminium kedua di Mempawah dengan kapasitas 600.000 ton per tahun. Dengan tambahan fasilitas tersebut, kapasitas produksi aluminium Inalum akan meningkat menjadi sekitar 900.000 ton per tahun.

"Jika kedua smelter Inalum beroperasi, kebutuhan alumina domestik diperkirakan mencapai sekitar 1,8 juta ton. Artinya, hampir seluruh produksi BAI dari SGAR Fase I dan II akan terserap di dalam negeri," kata Darwin.

Sekretaris Perusahaan Aneka Tambang, Wisnu Danandi Haryanto mengatakan, hilirisasi telah mendorong ANTM mengoptimalkan portofolio bisnis bauksit.

Pada 2025, produksi bauksit perseroan meningkat 112% secara tahunan menjadi 2,83 juta wet metric ton (wmt), sedangkan penjualan melonjak 157% menjadi 1,89 juta wmt. Dengan capaian tersebut, kontribusi ANTM terhadap produksi bauksit nasional diperkirakan mencapai 8%–9%.

Dari total produksi tersebut, sekitar 2 juta wmt diserap oleh BAI sebagai bahan baku SGAR, sedangkan sekitar 600.000 wmt digunakan untuk memasok kebutuhan pabrik CGA milik ICA.

Wisnu menilai, pengolahan bauksit menjadi alumina, baik CGA maupun SGA, mampu memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan penjualan bijih.

Meski demikian, besarnya nilai tambah tidak hanya ditentukan oleh selisih harga bauksit dan alumina, juga dipengaruhi oleh tingkat recovery, biaya energi, bahan kimia, logistik, kapasitas produksi, serta kondisi harga pasar.

"Hilirisasi juga memperluas portofolio produk, meningkatkan penyerapan mineral di dalam negeri, memperkuat kepastian pasar bagi produksi tambang, serta mendukung terbentuknya rantai industri alumina dan aluminium nasional," ujar Wisnu kepada Kontan, Kamis (16/7).

Ke depan, ANTM akan terus bersinergi dengan MIND ID, Inalum, pemerintah, dan mitra strategis dalam pengembangan SGAR Fase II maupun proyek aluminium berikutnya.

ANTM juga melanjutkan kegiatan eksplorasi untuk meningkatkan kualitas data sumber daya dan cadangan bauksit guna menjaga keberlanjutan pasokan jangka panjang.

"Kegiatan tersebut dilaksanakan secara bertahap pada wilayah IUP yang dimiliki Antam dan entitas anak dengan tetap mengacu pada rencana kerja perusahaan, ketentuan perizinan, serta penerapan kaidah penambangan yang baik," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News