KONTAN.CO.ID - KENDARI. Pengembangan Kawasan Industri Pomalaa atau yang juga dikenal dengan Indonesia Pomalaa Industry Park (IPIP) terus menginjak gas mengejar target pembangunannya.
Kawasan berstatus Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terletak di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara ini memiliki nilai investasi sebesar US$ 4,5 miliar dan luas sekitar 9.384 hektare dengan berbagai fasilitas pelabuhan yang nantinya akan mendukung pengolahan nikel berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) berkapasitas sebesar 9 juta ton per tahun.
PT Kolaka Nickel Indonesia (KNI), perusahaan yang berada di balik pembangunan kawasan industri tersebut percaya diri bisa mengejar target pembangunan HPAL untuk menghasilkan produk utama Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Asal tahu saja, MHP inilah bahan baku penting dalam rantai pasok baterai kendaraan listrik.
Baca Juga: Vale Indonesia (INCO) Pastikan Komitmen Praktik Penambangan Berkelanjutan di Pomalaa
PT KNI yang lahir dari patungan alias joint venture (JV) antara PT Huayou Cobalt, perusahaan nikel asal China, PT Vale Indonesia Tbk (INCO) dan Ford Motor Company asal Amerka Serikat ini menyampaikan kepada Kontan bahwa saat ini pihaknya masih menjalani tahapan konstruksi.
Di saat yang sama pula, terdapat sejumlah faslitas dan peralatan utama yang telah memasuki tahap commisioning sebagai persiapan menuju fase produksi tahap pertama.
"Kami menargetkan line pertama mulai beroperasi pada Agustus 2026. Saat ini progres proyeknya masih on-track dan jika tidak ada kendala, maka seluruh fasilitas ditargetkan beroperasi penuh pada akhir tahun," papar Vice General Manager PT KNI, Yang Bo, kepada Kontan saat menyambangi pembangunannya di Pomalaa, Kolaka, Selasa (9/6/2026).
Secara keseluruhan, nantinya akan terdapat lima lini produksi yang diaktifkan secara bertahap hingga seluruh fasilitas beroperasi penuh di akhir tahun ini.
KNI pun memasang target fantastis untuk menyiapkan kapasitas produksi sebesar 120.000 ton kandungan nikel per tahunnya. Dengan kapasitas tersebut pula, fasilitas HPAL yang dikembangkan oleh KNI diklaim sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Yang Bo juga menyebutkan bahwa teknologi HPAL yang digunakan Huayou kali ini lebih unggul dan canggih dari sisi kapasitas dan efisiensi. Dengan lima autoclave yang nanti dibuat, fasilitas tersebut akan mampu menghasilkan produksi nikel hingga 120.000 ton per tahun.
"Teknologi yang kami gunakan lebih canggih dan lebih efisien. Produk MHP yang dihasilkan nantinya juga memiliki kualitas lebih baik dan lebih ramah lingkungan," imbuh Yang Bo.
Bila melihat perjalanannya, proyek pembangunan fasilitas HPAL ini sudah dimulai sejak Oktober 2024 melalui proses pendaftaran dan pembukaan lahan (land clearing). Selanjutnya, pembangunan dilanjutkan dengan memasang konstruksi pada 2025, yang berlangsung hingga saat ini.
Dalam proses pembangunannya ini pula, standar lingkungan, sosial, dan tata kelola perusahaan (ESG) juga selalu diperhatikan oleh KNI sebagaimana peran yang didukung oleh masing-masing pemegang saham perusahaan.
Yang Bo menjabarkan bahwa Vale Indonesia memegang peran sebagai pemasok bijih nikel dengan standar operasional tinggi lalu Huayou Cobalt bertugas menyediakan teknologi sekaligus mengoperasikan smelter.
Yang Bo juga menyampaikan, karena saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas hilirisasi lanjutan yang memadai untuk mengolah MHP menjadi material baterai, maka seluruh produksi awal akan diekspor ke China melalui Huayou.
"Untuk sementara, MHP akan dikirim ke China karena proses lanjutan untuk menjadi bahan baku baterai masih dilakukan di sana. Tetapi ke depan, ada kemungkinan Huayou juga membangun fasilitas lanjutan di Indonesia," ungkap Yang Bo.
Selanjutnya, Ford Company berperan sebagai pengguna akhir yang akan menyerap produk tersebut dalam rantai pasok kendaraan listrik yang dihasilkannya nanti.
"Dengan begitu, terbentuk satu rantai pasok yang terintegrasi mulai dari penyediaan bahan baku, pengolahan di smelter hingga pemanfaatan pada kendaraan listrik," tambah dia.
KNI juga menegaskan bahwa dalam proses produksinya, menggunakan teknik hidrometalurgi dengan memanfaatkan bijih nikel berjenis limonite. Bijih nikel ini nantinya akan diproses menggunakan asam sulfat di dalam autoclave yang beroperasi pada suhu dan tekanan tinggi untuk menghasilkan produk MHP.
Selain memisahkan unsur-unsur logam dalam proses produksi, fasilitas asam sulfat yang dimiliki oleh KNI juga akan terintegrasi dengan sistem pembangkit listrik yang memberikan daya pada operasional smelter. Adapun kebutuhan energi untuk fasilitas HPAL yang dioperasikan KNI mencapai sekitar 100 megawatt (MW).
"Kami memiliki fasilitas pembangkit listrik sendiri yang didukung oleh gas alam cair atau LNG untuk menunjang operasional kami," ucap Yang Bo.
Pada saat smelter beroperasi penuh, jumlah tenaga kerja yang akan diserap atau terlibat dalam proyek mencapai sekitar 5.000 orang, Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 orang merupakan tenaga kerja asing (TKA) sedangkan sisanya, yakni 4.000 orang merupakan tenaga kerja Indonesia.
Namun, sebagian besar pekerja tersebut masih tenaga kerja konstruksi yang berada di bawah perusahaan kontraktor. Sementara saat ini, KNI masih mempekerjakan 1.000 pekerja secara langsung.
Kawasam IPIP yang dikelola oleh KNI saat ini juga telah menggenggam sebanyak empat hinga lima tenant. PT Huaxing Nickel Indonesia, salah satu penghuni atau tenant IPIP, juga turut menyediakan dan mengembangkan fasilitas pengolahan berbasis Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF).
Dengan dukungan yang ada serta harapan akan semakin banyaknya tenant yang masuk, IPIP atau kawasan industri Pomalaa diharapkan mampu menjadi salah stau pusat hilirisasi nikel dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News