Menelusuri Jejak Hilirisasi Aluminium, dari Tambang ke Smelter

Menelusuri Jejak Hilirisasi Aluminium, dari Tambang ke Smelter
Ilustrasi. Pionir Hilirisasi, Grup MIND ID PT Inalum Naikkan Produksi Aluminium hingga 274 Ribu Ton (Dok/MIND ID)
Jumat, 24 Juli 2026 | 17:58 WIB

Reporter: Dimas Andi, Lydia Tesaloni

Editor: Ahmad Febrian

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pagi itu, Kamis, 9 Juli 2026,  jarum jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Namun, suhu udara sudah mencapai 30 derajat celsius.

Di bawah terik matahari, sejauh mata memandang, hamparan tanah berwarna kecokelatan membentang hingga ratusan hektare. Tak lama kemudian, deru mesin ekskavator dan lalu lalang truk-truk tambang memecah keheningan kawasan itu.

Di kawasan inilah aktivitas penambangan bauksit PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Unit Bisnis Pertambangan (UBP) Bauksit Tayan, Kalimantan Barat, berlangsung tanpa henti. Dari lokasi tersebut perjalanan hilirisasi bauksit dimulai, sebelum akhirnya berubah menjadi alumina, bahan baku utama industri aluminium.

Di salah satu area tambang, truk-truk raksasa hilir mudik mengangkut lapisan tanah penutup (overburden) yang lebih dulu dikupas menggunakan ekskavator. Setelah lapisan tersebut tersingkir, material yang mengandung bauksit mulai ditambang.

Tahap berikutnya adalah proses pencucian (washing). Material hasil tambang dituangkan ke fasilitas penyaring dan disemprot air bertekanan tinggi hingga terpisah menjadi butiran yang lebih halus.

Bauksit yang telah dicuci kemudian dibawa ke stockyard sebelum dikirim ke fasilitas pengolahan. Seluruh rangkaian penambangan di UBP Bauksit Tayan berlangsung selama 24 jam dalam tiga shift.

General Manager ANTM UBP Bauksit Tayan, Agung Antikajadi Asmara mengatakan, tambang tersebut telah beroperasi sejak tahun 2014.

Hingga kini, eksplorasi baru mencakup sekitar 2.000–3.000 hektare dari total wilayah izin usaha pertambangan (IUP) seluas sekitar 34.000 hektare. Meski demikian, kegiatan eksplorasi terus dilakukan untuk meningkatkan status sumber daya menjadi cadangan.

Baca Juga: Ketika Rantai Industri Aluminium Nasional Mulai Saling Terhubung

ANTM terus meningkatkan kapasitas produksinya. Pada 2025, kapasitas produksi bauksit UBP Tayan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 4 juta ton pada 2028 seiring pembukaan blok tambang baru dan pembangunan infrastruktur pendukung. Saat ini, total cadangan bauksit di Tayan mencapai sekitar 111,7 juta ton washed bauksit.

Sebagian besar produksi bauksit ANTM, sekitar 2 juta ton per tahun, dipasok ke PT Borneo Alumina Indonesia, pengelola smelter grade alumina refinery (SGAR) di Mempawah.

Sementara sekitar 600.000 ton lainnya diserap PT Indonesia Chemical Alumina (ICA), pabrik chemical grade alumina (CGA) yang berada berdampingan dengan kawasan tambang Tayan.

Di pabrik PT Indonesia Chemical Alumina, bauksit diolah melalui proses kimia menjadi berbagai jenis chemical grade alumina yang dimanfaatkan untuk industri penjernih air, keramik, kabel, bata tahan api, dan berbagai kebutuhan manufaktur lain.

Pada 2025, PT Indonesia Chemical Alumina memproduksi 181.690 ton alumina dengan volume penjualan 180.221 ton, di mana sekitar 76% dipasarkan ke berbagai negara seperti Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, China, India, hingga Selandia Baru.

Agung optimistis peluang pasar bauksit ANTM akan semakin luas seiring bertambahnya fasilitas pemurnian alumina di dalam negeri. "Kalau proyek-proyek smelter itu sudah beroperasi, bisa jadi nanti kami akan buka pasar baru ke sana," ujarnya.

Keberadaan tambang juga membawa dampak ekonomi bagi kawasan Tayan. Aktivitas industri mendorong pertumbuhan permukiman, perdagangan, dan pembangunan infrastruktur.

Saat ini, UBP Bauksit Tayan mempekerjakan sekitar 800–1.000 orang, dengan sekitar 70%–80% tenaga kerja pendukung berasal dari masyarakat sekitar wilayah operasi.

Perjalanan hilirisasi berlanjut ke SGAR Fase I milik PT Borneo Alumina Indonesia di Mempawah. Fasilitas pemurnian alumina tersebut beroperasi menggunakan sistem otomatis yang dikendalikan dari ruang control.

Sementara kualitas bahan baku hingga produk akhir dipastikan melalui laboratorium yang berada di dalam kompleks pabrik. Alumina yang dihasilkan kemudian dikirim melalui Pelabuhan Internasional Kijing untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.

Direktur Utama PT Borneo Alumina Indonesia, Darwin Saleh Siregar mengatakan, SGAR merupakan mata rantai penting dalam ekosistem Mind Id yang menghubungkan bauksit produksi ANTM dengan smelter aluminium milik Inalum.

Proyek SGAR Fase I dibangun dengan investasi sekitar US$ 831,5 juta. Saat ini, fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi 1 juta ton smelter grade alumina (SGA) per tahun atau sekitar 2.800 ton per hari.

Sekitar 60% produksinya dipasok ke Inalum di Kuala Tanjung, sedangkan sisanya dipasarkan ke pelanggan lain, termasuk ke China dan India.

Untuk menghasilkan alumina tersebut, SGAR membutuhkan sekitar 3 juta–3,2 juta ton washed bauksit setiap tahun yang dipasok dari tambang ANTM di Tayan.

Baca Juga: Industri Baja Hadapi Tekanan Impor di Tengah Peluang Pasok Proyek Hilirisasi Migas

Ke depan, pasokan bahan baku juga direncanakan berasal dari wilayah Toho dan Landak di Kalimantan Barat. Menurut Darwin, daya saing bisnis pemurnian alumina sangat ditentukan oleh efisiensi biaya produksi karena harga alumina mengikuti mekanisme pasar global.

Selain memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional, proyek SGAR juga memberikan dampak ekonomi bagi daerah.

Saat ini sekitar 1.300 orang bekerja di fasilitas tersebut, dengan sekitar 80%–85% merupakan tenaga kerja asal Kalimantan Barat.

BAI juga menyatakan, proses alih teknologi dari kontraktor asal China telah berjalan, sehingga sekitar 90% operasional dan perawatan pabrik kini telah ditangani oleh tenaga kerja Indonesia.

Pemerintah Kabupaten Mempawah turut merasakan manfaat kehadiran SGAR. Pada 2025, PT Borneo Alumina Indonesia menyetor sekitar Rp 31 miliar pajak daerah yang dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pengembangan UMKM, hingga pemberdayaan masyarakat.

Seiring beroperasinya proyek tersebut, sejumlah indikator pembangunan daerah juga menunjukkan perbaikan, mulai dari pertumbuhan ekonomi, peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga penurunan tingkat kemiskinan.

Pemerintah daerah pun terus mengawal agar proyek hilirisasi ini tetap berjalan dengan memperhatikan aspek lingkungan dan memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News