KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gulungan baja atau steel coil berbobot hingga 30 ton tampak berjejer di salah satu sudut pabrik PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (Spindo).
Satu per satu, baja tersebut diangkat menggunakan overhead crane menuju lini produksi untuk diproses menjadi pipa baja dengan berbagai ukuran dan spesifikasi.
Di dalam pabrik, suara gemuruh mesin yang nyaris tak pernah berhenti berpadu dengan percikan cahaya terang dari proses pengelasan otomatis yang membentuk lembaran baja menjadi pipa berstandar industri.
Baca Juga: Insentif LPG Buka Peluang Industri Plastik
Setiap batang pipa yang diproduksi di pabrik ini tidak lahir begitu saja. Setelah melalui proses pembentukan (forming) dan pengelasan (welding), pipa harus melewati serangkaian pengujian ketat.
Mulai pemeriksaan dimensi, uji ultrasonik untuk memastikan tidak ada cacat pada sambungan las, hingga proses pelapisan (coating) agar tahan korosi.
Seluruh tahapan diawasi secara presisi melalui panel kendali dan inspeksi berlapis, karena sebagian besar produk ini akan digunakan untuk mengalirkan minyak dan gas bertekanan tinggi. Kesalahan sekecil apa pun tidak bisa ditoleransi.
Pabrik Spindo di Jawa Timur ini menjadi salah satu mata rantai penting dalam ekosistem hilirisasi industri migas nasional.
Dari fasilitas inilah diproduksi berbagai pipa baja berstandar internasional yang digunakan untuk jaringan transmisi, distribusi gas, hingga proyek-proyek energi strategis di Indonesia.
Baca Juga: HKTDC Buka Peluang Industri Perhiasan Indonesia melalui 2 Pameran Hong Kong 2026
“Proyek-proyek terkait pengembangan sumber energi dan pembangunan infrastruktur terus digalakkan. Kami siap mendukung seluruh proyek pemerintah tersebut,” kata Direktur Operasional Spindo Nico Gunawan saat ditemui Tim Jelajah Hilirisasi KONTAN di Unit 4 Spindo Pasuruan, Rabu (24/6/2026).
Gambaran aktivitas di lantai produksi tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi migas tidak semata-mata soal pembangunan kilang, jaringan pipa, atau fasilitas pengolahan bernilai triliunan rupiah.
Di balik proyek-proyek besar tersebut terdapat ekosistem industri yang bekerja menopangnya.
Mulai dari produsen baja, pabrik pipa, penyedia listrik, perusahaan logistik, hingga kawasan industri yang menyediakan berbagai fasilitas penunjang.
Baca Juga: Hyundai Sambut Insentif EV, Minta Kebijakan Konsisten dengan Peta Jalan Industri
Ekosistem tersebut menjadi fondasi agar investasi hilirisasi dapat berjalan secara efisien, memiliki daya saing tinggi. Sekaligus menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Pemerintah sendiri terus memperkuat pengembangan sektor hilirisasi seperti migas sebagai upaya mewujudkan ketahanan energi nasional. Sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
Nilai investasi yang mencapai triliunan rupiah diproyeksikan menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan. Besarnya investasi tersebut memerlukan dukungan industri penunjang agar proyek-proyek hilirisasi mampu beroperasi optimal.
Keberhasilan hilirisasi sangat ditentukan oleh kesiapan berbagai sektor pendukung.
Mulai dari kawasan industri yang menyediakan lahan beserta utilitas, pasokan listrik yang andal, industri baja dan produk turunannya, hingga sistem logistik yang mampu menjamin kelancaran distribusi material dan peralatan
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengungkapkan selama ini proyek hilirisasi seperti migas memang melibatkan banyak sektor industri pendukung. Mayoritas merupakan perusahaan nasional.
Karena itu, kata Moshe, pemerintah perlu memberikan perhatian yang seimbang, tidak hanya kepada Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS). Juga kepada industri penunjang yang menopang keseluruhan rantai pasok migas.
Baca Juga: Insentif Pajak Kendaraan Listrik Masih Tarik Ulur, Kepastian Jadi Sorotan Industri
"Selama ini perhatian lebih banyak kepada KKKS, padahal perusahaan pendukung sebagian besar adalah perusahaan lokal. Mereka juga harus diperkuat," ujarnya kepada KONTAN.
Kesiapan juga datang dari kawasan industri. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana bilang, pengelola kawasan industri siap menjadi rumah bagi investasi hilirisasi.
Berbagai kawasan industri telah menyiapkan lahan, utilitas, serta berbagai fasilitas pendukung bagi investor yang akan membangun industri penunjang migas maupun sektor manufaktur lainnya.
"Yang perlu dibenahi sekarang adalah berbagai faktor pendukung agar industri di dalam kawasan semakin kompetitif," ujar Ma'ruf kepada KONTAN.
Salah satunya, HKI berharap pemerintah memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada kawasan industri untuk mengembangkan sumber listrik secara mandiri.
Baca Juga: HSE Jadi Fondasi, Tracon Industri Pacu Kinerja Berkelanjutan
Saat ini sebagian besar kawasan industri masih mengandalkan pasokan listrik dari PT PLN. Padahal, bagi industri yang beroperasi selama 24 jam, keandalan pasokan listrik merupakan faktor yang sangat menentukan kelancaran proses produksi.
“Kalau memiliki pembangkit sendiri, operasional industri tetap berjalan ketika terjadi gangguan pada jaringan utama. Ini penting untuk menjaga kepercayaan investor," ujarnya.
Sektor logistik sebagai industri penunjang juga memegang peran penting dalam ekosistim hilirisasi. Kelancaran arus barang, mulai dari tahap pengadaan peralatan hingga distribusi hasil produksi, menjadi salah satu faktor penentu efisiensi investasi.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengatakan, kebutuhan logistik pada proyek hilirisasi sangat kompleks.
Tidak hanya mencakup pengangkutan barang di dalam negeri, tetapi juga layanan international forwarding untuk mendukung pengadaan mesin industri, bahan baku, serta berbagai peralatan dari luar negeri.
Baca Juga: HKI Usul Bentuk Tim Percepatan Kawasan Industri untuk Mengurai Hambatan Investasi
Menurut Trismawan, tantangan terbesar bukan hanya transportasi, tetapi juga kesiapan akses jalan, pelabuhan, moda angkut, serta fasilitas bongkar muat yang memenuhi standar keselamatan.
"Ketersediaan akses jalan yang layak menjadi tantangan utama, selain ketersediaan moda angkut dan peralatan bongkar muat yang memenuhi standar, sesuai regulasi, serta ekonomis," ujarnya.
Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menyebut, dampak aktivitas hilirisasi seperti di sektor migas tidak hanya dirasakan pelaku usaha energi. Tetapi juga merambat ke berbagai sektor industri yang menjadi bagian dari rantai pasok nasional.
Ia memperkirakan sekitar 75% sektor ekonomi di Indonesia memiliki keterkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung, dengan industri migas.
Baca Juga: Permintaan Obat Injeksi Steril Melonjak, Ethica Industri Farmasi Percepat Ekspansi
Karena itu, setiap peningkatan investasi maupun pembangunan proyek hilirisasi akan menciptakan efek berganda yang luas terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News