Melihat Derap Pembangunan HPAL dan Dermaga di Sambalagi

Melihat Derap Pembangunan HPAL dan Dermaga di Sambalagi
Ilustrasi. Proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali PT Vale Indonesia Tbk (KONTAN/Muradi)
Senin, 22 Juni 2026 | 06:30 WIB

Reporter: Amalia Nur Fitri

Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - MOROWALI. Hembusan angin panas menyergap saat Kontan sampai di kawasan proyek tambang Sambalagi. Total perjalanan yang ditempuh oleh tim Jelajah Hilirisasi Kontan melalui perjalanan darat untuk mencapai titik proyek Sambalagi kurang lebih sekitar 4 jam dari kawasan Bahodopi.

Bersama dengan titik proyek Bahodopi, Sambalagi masuk ke dalam proyek Indonesia Growth Project (GP) Morowali.

Kawasan tambang Sambalagi ini terletak di Kecamatan Bungku Pesiri, Morowali, Sulawesi Tengah. Selain berada dekat dengan pesisir pantai, tambang Sambalagi berada di dalam kawasan PT International Green Industrial Park (IGIP).

Dalam rancangan ambisiusnya, IGIP memiliki misi membangun kawasan industri bebas karbon atau net-zero carbon park di lahan seluas 3000 hektare dengan total investasi mencapai US$ 10 miliar, serta mampu mempekerjakan hingga 88.000 pegawai di masa depan.

Baca Juga: Jadi Pionir Hilirisasi Nikel Domestik, Vale Indonesia Ogah Ekspansi Masif dan Agresif

Di kawasan ini pula, PT Vale Indonesia bekerjasama dengan PT Bahodopi Nickel Smelting Indonesia (BNSI) meresmikan pembangunan proyek pertambangan dna pengolahan nikel berkarbon rendah.

Lalu dalam pengolahan nikel seta pengadaan teknologi, Vale menggandeng GEM Co Ltd, perusahaan raksasa daur ulang asal China yang memegang saham terbesar pula di BNSI. Investasi yang ditanamkan oleh GEM Co Ltd sendiri mencapai US$ 8 miliar.

Di Sambalagi pula, pembangunan teknologi Proyek tersebut adalah pabrik High Pressure Acid Leaching (HPAL) terus dikebut. Namun memang, saat Kontan bertandang, keseluruhan perkembangannya baru mencapai 35%.

Pada paparannya Khristya Pramitha Project Engineer Bahodopi HPAL Vale Indonesia mengemukakan bahwa tambang ini dirancang bisa memproduksi nikel sebanyak 66.000 ton per tahun. Untuk mencapai kapasitas tersebut, pabrik dibagi menjadi tiga jalur produksi atau line yang dikenal sebagai Line A, Line B, dan Line C.

"Masing-masing line memiliki kapasitas sekitar 20.000 ton nikel per tahun. Operasi pabrik akan dilakukan secara bertahap dan targetnya, satu line mulai beroperasi pada akhir 2026, sedangkan seluruh fasilitas mencapai kapasitas penuh sekitar Maret 2027," papar Khristya kepada Kontan, pada Minggu (14/6/2026).

Walau secara keseluruhan pengembangan proyek HPAL masih di bawah 50%, tetapi keseluruhan pondasi area utama pengembangan proyek HPAL dan fasilitas post-process sudah mencapai sekitar 80%. Konstruksi berbagai fasilitas pendukung juga berjalan secara paralel.

Berbagai peralatan utama masih dalam tahap pengiriman. Oleh karena itu, pekerjaan saat ini lebih difokuskan pada pembangunan fondasi dan struktur pendukung sehingga ketika peralatan tiba, proses pemasangan dapat segera dilakukan.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa nantinya seluruh pasokan bahan baku proyek ini berasal dari tambang Vale di Bahodopi. Dalam setahun, sekitar 11 juta ton bijih limonite akan diolah untuk menghasilkan sekitar 66.000 ton kandungan nikel dalam bentuk MHP.

Produk MHP tersebut merupakan campuran nikel dan kobalt, yang mana kandungan nikel lebih akan mendominasi sekitar 30% dari total massa produk.

Pada tahap awal, produk MHP masih akan diekspor. Namun pemegang saham utama, GEM, memiliki rencana jangka panjang untuk membangun industri yang lebih hilir, mulai dari prekursor baterai, precursor cathode active material (PCAM), hingga fasilitas daur ulang baterai.

Khristya juga mengungkapkan autoclave yang dipasang, masih didatangkan dari China. Autoclave inilah merupakan tempat yang dilalui bijih limonite yang sebelumnya dikumpulkan di fasilitas ore feeding plant.

Baca Juga: Masih On-Track, PT KNI Targetkan Proyek HPAL Mulai Produksi Perdana Agustus 2026

Di tempat ini bijih disimpan, dihancurkan, dicuci, dan dipersiapkan sebelum masuk ke proses pemanasan bersuhu bertekanan tinggi.

Asal tahu saja, proses HPAL sendiri bekerja dengan temperatur sekitar 200 derajat celcius dan tekanan tinggi menggunakan asam sulfat. Melalui proses inilah logam nikel dan kobalt dipisahkan dari material pembawanya.

Dalam penggunaan listrik untuk mengoperasikan kegiatan kawasan tambang, proyek di Sambalagi akan menggunakan fasilitas Waste Heat Power Generation (WHPG).

"Jadi panas sisa dari proses pembakaran sulfur tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan kembali untuk menghasilkan listrik," imbuhnya.

Kapasitas listrik dari sistem ini diperkirakan mencapai 40-45 MW, jumlah yang dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan operasional BNSI. Vale tidak menutupi bahwa harga yang mahal, membuatnya tidak memilih LNG sebagai pilihan utama.

Pengelola kawasan juga merencanakan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya sekitar 30 MW, dimana panel-panel surya nantinya akan dipasang di area bendungan maupun di atas fasilitas tailing yang telah penuh dan ditutup.

Langkah ini dipercaya menjadi bagian dari upaya meningkatkan porsi energi yang lebih ramah lingkungan.

Lalu dari sisi penggunaan air yang melimpah untuk fasilitas HPAL, Vale mengungkapkan bahwa kebutuhan airnya akan dipenuhi dari reservoir yang tersedia dari Sungai Bokulu, sebagai tahap awal. Namun dalam jangka panjang, kawasan industri berencana membangun bendungan dengan kapasitas lebih besar.

Saat berkeliling situs tambang, Vale Indonesia juga mengungkapkan bahwa batu kapur juga menjadi materal penting dalam proses produksi nikel, tidak hanya air saja. Patut disyukuri, bahwa wilayah ini memiliki cadangan batu kapur yang melimpah.

Tak hanya itu, karena kawasan proyek Sambalagi ini bersentuhan dengan pesisir, pembangunan dermaga juga akan dilakukan guna menopang kegiatan logistik. Dermaga ini nantinya langsung menghubungkan Wuhan - Bahodopi.

BNSI selaku pengelola kawasan merencanakan pembangunan delapan dermaga khusus untuk mendukung bongkar muat bijih. Aktivitas ini diperkirakan akan membuat kawasan pesisir Bahodopi, menjadi salah satu pusat logistik mineral terbesar di Indonesia.

Lalu untuk pengembangan faislitas tailing juga akan dibuat dengan meratakan dua lembah di sekitar Sambalagi. Sebagai informasi, tailing merupakan residu hasil sisa proses HPAL.

"Saat ini desain fasilitas tersebut masih dalam tahap pengujian tanah dan kajian teknis. Vale Indonesia turut melakukan review terhadap rancangan yang disusun," ucap Khristya.

Dia mengatakan bahwa konstruksi area pertama ditargetkan mulai pada Agustus 2026, sementara sebagian fasilitas diharapkan sudah bisa digunakan pada awal 2027.

Tidak hanya membangun pabrik, kawasan BNSI juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung bagi pekerja dan keluarganya. Tersedia asrama, perumahan, masjid, sport hall, lintasan jogging, hingga area rekreasi yang dapat diakses oleh keluarga karyawan.

Saat ini, pekerja yang beraktivitas di kawasan proyek Sambalagi, total berjumlah 2.300 pekerja dengan perbandingan pekerja lokal dengan tenaga kerja asing (TKA) mencapai 60:40.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Tag: