Industri Baja Hadapi Tekanan Impor di Tengah Peluang Pasok Proyek Hilirisasi Migas

Industri Baja Hadapi Tekanan Impor di Tengah Peluang Pasok Proyek Hilirisasi Migas
Ilustrasi. Pabrik pembuatan pipa baja milik PT SPINDO (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)
Selasa, 07 Juli 2026 | 09:51 WIB

Reporter: Shintia Rahma Islamiati

Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTAProgram hilirisasi di sektor minyak dan gas (migas) serta pertambangan membuka peluang besar bagi industri baja nasional. Namun, derasnya produk impor berharga murah dinilai masih menjadi tantangan utama yang menghambat produsen domestik dalam memaksimalkan pasokan untuk berbagai proyek strategis tersebut.

Direktur Eksekutif Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) Harry Warganegara mengatakan, dari sisi kapasitas produksi, industri baja nasional sebenarnya telah memiliki kemampuan yang memadai untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan pembangunan infrastruktur hilirisasi migas dan tambang.

Menurutnya, produsen dalam negeri telah mampu memasok berbagai produk baja, mulai dari plate, pipa baja, baja konstruksi, baja lembaran, hingga berbagai produk fabrikasi sesuai spesifikasi proyek.

“Industri baja nasional saat ini memiliki kapasitas produksi yang cukup besar dan terus berkembang untuk mendukung berbagai proyek strategis nasional, termasuk pembangunan infrastruktur hilirisasi sektor migas dan pertambangan,” kata Harry kepada Kontan, Kamis (2/7/2026).

Meski demikian, ia mengungkapkan tingkat utilisasi industri baja nasional masih belum optimal. Penyebab utamanya adalah tingginya tekanan produk impor yang menggerus pangsa pasar produsen domestik.

Baca Juga: Hilirisasi Buka Jalan Industri Penunjang Berkembang

Efek Banjir Baja Impor

Harry menjelaskan, kapasitas produksi yang tersedia masih memiliki ruang untuk memenuhi peningkatan kebutuhan baja hingga 2030. Namun, peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila iklim usaha mendukung dan pasar domestik tidak terus dibanjiri produk impor dengan harga yang tidak wajar.

“Tantangan utama saat ini bukan semata pada kapasitas produksi, melainkan optimalisasi industri dan terciptanya iklim usaha yang sehat serta memiliki daya saing,” ujarnya.

Menurut Harry, banjirnya baja impor, termasuk yang masuk melalui praktik perdagangan tidak adil, menyebabkan utilisasi industri nasional tetap rendah. Akibatnya, investasi baru maupun ekspansi kapasitas menjadi sulit berkembang secara optimal.

Selain tekanan impor, industri baja juga menghadapi tantangan dari sisi biaya produksi. Tingginya harga energi, biaya logistik, dan pembiayaan dinilai masih menekan daya saing produk baja nasional dibandingkan produk impor.

Di sisi lain, Indonesia juga masih bergantung pada impor untuk sejumlah bahan baku strategis, seperti iron ore dengan kualitas tertentu, scrap, ferroalloy, dan berbagai material pendukung lainnya.

Harry menilai tantangan tersebut perlu diatasi melalui kebijakan yang lebih terintegrasi. Menurutnya, pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan di sektor perdagangan, perindustrian, investasi, hingga pengadaan barang dan jasa agar penggunaan produk baja nasional semakin diutamakan, terutama dalam proyek-proyek strategis.

Di tengah tantangan tersebut, Harry menegaskan industri baja nasional sebenarnya telah mampu memproduksi sebagian besar kebutuhan proyek hilirisasi migas. Produk seperti billet, slab, hot rolled coil (HRC), cold rolled coil (CRC), baja tulangan, wire rod, baja profil, plate, hingga pipa baja telah diproduksi di dalam negeri sesuai standar yang dibutuhkan.

Baca Juga: Aspermigas: Hilirisasi Migas Butuh Industri Pendukung yang Kompetitif

Namun, masih terdapat sejumlah produk baja khusus yang belum dapat diproduksi secara ekonomis di Indonesia. Produk tersebut antara lain baja dengan spesifikasi sangat tinggi untuk aplikasi berteknologi tinggi, baja tahan korosi tertentu, baja tahan temperatur ekstrem, seamless pipe dengan diameter dan grade tertentu, stainless steel khusus, electrical steel, hingga beberapa jenis alloy steel.

“Produk-produk tersebut umumnya masih diimpor karena keterbatasan skala permintaan domestik, investasi teknologi yang tinggi, maupun belum terciptanya keekonomian produksi,” katanya.

Hiilirisasi Bisa Jadi Momentum

Untuk memperkuat peran industri baja nasional dalam proyek hilirisasi, IISIA juga terus memfasilitasi kerja sama antara produsen baja dengan pengguna akhir, seperti Pertamina, PGN, perusahaan pertambangan, kontraktor EPC, serta berbagai kementerian dan lembaga.

Melalui forum diskusi, business matching, hingga penyusunan standar, asosiasi berupaya menjembatani kebutuhan pengguna dengan kemampuan produsen nasional. IISIA juga mengidentifikasi spesifikasi produk yang dibutuhkan industri agar dapat menjadi acuan bagi anggotanya dalam mengembangkan kapasitas produksi maupun investasi pada produk baja bernilai tambah.

Baca Juga: Spindo (ISSP) Andalkan Pipa Berstandar Internasional untuk Garap Proyek Migas

Harry berharap percepatan pembangunan infrastruktur strategis dapat menjadi momentum untuk memperkuat industri baja nasional. Menurutnya, pemerintah perlu memperketat pengawasan terhadap impor baja yang tidak sesuai ketentuan, menjamin pasokan energi dengan harga yang kompetitif, serta mendorong investasi pada produk baja bernilai tambah.

“Sinergi yang lebih kuat antara pemerintah, BUMN, pelaku industri, dan pengguna akhir sangat diperlukan agar proyek-proyek hilirisasi tidak hanya meningkatkan investasi di sektor hilir, tetapi juga memperkuat ekosistem industri baja nasional,” ujarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News