Bangun Pabrik Soda Ash US$ 250 Juta, Pupuk Kaltim Bidik Pasar Unilever Hingga Maspion

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) sedang menggelar tender pengerjaan pabrik soda ash di Bontang, Kalimantan Timur dengan nilai investasi US$ 200 juta-US$ 250 juta. Selasa, 26 Juli 2022 | 17:52 WIB
Reporter: Anastasia Lilin Y Editor: Anastasia Lilin Yuliantina

KONTAN.CO.ID - BONTANG. PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) berencana membangun pabrik soda ash dengan nilai investasi US$ 200 juta-US$ 250 juta. Anak perusahaan PT Pupuk Indonesia (Persero) tersebut membidik sejumlah pelanggan besar termasuk Unilever dan Maspion Group.

Saat ini, Pupuk Kaltim sedang menggelar tender pengerjaan proyek pabrik soda ash di kawasan industri milik PT Kaltim Industrial Estate (KIE), Bontang, Kalimantan Timur. KIE merupakan anak usaha Pupuk Kaltim yang bergerak dalam lima bisnis yakni kawasan industri, rekayasa dan konstruksi, properti, beton serta perdagangan.

Menurut rancang bangun, pabrik soda ash Pupuk Kaltim akan menempati area seluas 16 hektare (ha). Kapasitas produksinya 300.000 metrik ton per tahun soda ash dan 300.000 metrik ton per tahu amonium klorida.

Baca Juga: Ini Empat Tantangan Terbesar Pengembangan Energi Hijau di Sektor Industri Domestik

Lima peserta tender yang sebagian besar berasal dari dalam negeri, bersaing untuk memenangkan pengerjaan proyek. Selain perusahaan, konsorsium juga terlibat dalam tender tersebut. "Target pengerjaan proyek mulai Februari 2023 sedangkan target pengoperasian pada akhir tahun 2025," kata Ketua Tim Persiapan Soda Ash PT Pupuk Kalimantan Timur Wildan Hamdani saat dikunjungi KONTAN di Bontang, Kalimantan Timur, Selasa (26/7).

Bagi Pupuk Kaltim, proyek soda ash memberikan manfaat ganda. Pertama, mengurangi emisi karbon dengan memanfaatkan gas buang CO2 dalam proses produksi pupuk yang merupakan bisnis utama. Selama ini, gas buang C02 dalam proses pengolahan amonia dilepas begitu saja.

Asal tahu, produksi soda ash membutuhkan tiga bahan baku yakni C02, amonia dan garam. "Hanya garam yang perlu kami beli dari luar karena dua bahan lain sudah punya, kemungkinan akan beli garam dari India karena kalau dari PT Garam tidak akan cukup," kata Wildan.

Baca Juga: Tekan Emisi Karbon, Pupuk Kaltim Gunakan Motor Listrik untuk Aktivitas di Perusahaan

Kedua, memberikan nilai tambah bagi Pupuk Kaltim. Soda ash adalah bahan baku penting yang digunakan dalam sejumlah industri pembuatan kaca, deterjen, sabun dan bahan kimia lain. Soda ash yang merupakan garam natrium dari asam karbonat juga berguna untuk menaikkan pH air kolam renang hingg mengendapkan kotoran agar kolam air tetap bersih.

Sejauh ini kebutuhan soda ash dalam negeri mencapai 900.000 metrik ton per tahun. Namun seluruh kebutuhan itu dipenuhi dari impor karena belum satu pun pabrik soda ash hadir di Indonesia. Jadi kalau rencana berjalan sesuai target, pabrik Pupuk Kaltim nanti akan menjadi pionir dalam proyek soda ash domestik.

Pupuk Kaltim mengklaim, permintaan akan produksi soda ash sudah berdatangan meskipun pabrik belum dibangun. "Sudah banyak yang minta, kalau bisa dibangun besok kami akan bangun besok," tutur Wildan.

Baca Juga: Indonesia Mengajak dan Mendorong Negara G20 Mempercepat Transisi Energi Hijau

Sejumlah perusahaan masuk dalam target pasar soda ash Pupuk Kaltim. Target pasar soda ash kategori light 102 meliputi Unilever, Wings dan KAO. Sementara untuk soda ash kategori dense 198, Pupuk Kaltim membidik Mulia Industrindo, Maspion Group. AGC Group, Roxy Glass, MIGI Glass, SCHOTT dan Kim Glass.

Menurut data tradingeconomics, harga soda ash pada Selasa (26/7) mencapai 2.860 yuan per ton. Jadi dengan acuan kurs 1 yuan setara dengan Rp 2.219,54, harganya sekitar Rp 6,35 juta per ton. Dalam kurun waktu setahun ke belakang alias year on year (yoy), harga terungkit 43,72%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon