Indonesia Dalam Percaturan Baterai EV Dunia

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
FILE PHOTO: A worker displays nickel ore in a ferronickel smelter owned by state miner Aneka Tambang Tbk at Pomala district, Indonesia, March 30, 2011. REUTERS/Yusuf Ahmad/File Photo Kamis, 21 Juli 2022 | 12:41 WIB
Reporter: Yuwono Triatmodjo Editor: Yuwono triatmojo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Era kendaraan listrik membawa berkah bagi Indonesia sebagai negara yang kaya akan sumber mineral, khususnya nikel sebagai bahan baku battery electric vihicle (baterai EV). Cadangan nikel Indonesia mencapai 52% dari total cadangan nikel dunia, menurut data United States Geological Survei (USGS).

Dalam jangka menengah ke panjang, pemerintah memiliki komitmen untuk menjadi pemain nikel terutama yang menyuplai bahan baku untuk baterai mobil listrik.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, produksi olahan nikel Indonesia mencapai 2,47 juta ton pada 2021. Angka ini naik 2,17% dibanding 2020 yang sebesar 2,41 juta ton. 

Tren produksi olahan nikel di Indonesia, terus membukukan pertumbuhan saban tahun. Padahal pada tahun 2018, produksi olahan nikel hanya sebesar 927,9 ribu ton.

Memang, produksi feronikel masih menjadi tulang punggung produksi olahan nikel Indonesia. Kementerian ESDM pun berencana meningkatkan kembali produksi olahan nikel mencapai 2,58 juta ton pada 2022. Rinciannya, produk feronikel ditargetkan Kementerian ESDM meningkat menjadi 1,66 juta ton, nickel pig iron 831.000 ton, dan nickel matte 82.900 ton.

Umur cadangan bijih nikel Indonesia dari hasil studi hingga saat ini mencapai 73 tahun, untuk jenis bijih nikel kadar rendah di bawah 1,5% (limonite nickel).

Asumsi umur cadangan tersebut berasal dari jumlah cadangan bijih nikel limonit mencapai 1,7 miliar ton dan kebutuhan kapasitas pengolahan (smelter) di dalam negeri sebesar 24 juta ton per tahun.

Sementara untuk bijih nikel kadar tinggi di atas 1,5% (saprolite nickel), umur cadangan disebutkan hanya cukup untuk sekitar 27 tahun ke depan. Hitungan ini dengan asumsi jumlah bijih saprolit sebesar 2,6 miliar ton dan kapasitas kebutuhan bijih untuk smelter dalam negeri mencapai 95,5 juta ton per tahun.

“Saat ini sebagian besar konsumsi bijih laterit didominasi oleh bijih tipe saprolite kadar nikel tinggi untuk smelter RKEF yang memproduksi nikel kelas 2," ungkap Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Ridwan Djamaluddin dalam keterangan resmi, seperti diberitakan Kontan.co,id, Rabu (11/5).

Kata Ridwan, jumlah cadangan bijih tipe saprolite dengan kandungan nikel (Ni) lebih dari 1,7% dan Ni lebih dari 1,5% sebesar 1,76 miliar ton dan 2,75 miliar ton bijih basah.

Jika diasumsikan tidak ada penambahan cadangan dan konsumsi bijih mencapai tingkatan di mana semua smelter yang direncanakan telah terbangun dan seluruhnya beroperasi maka konsumsi mencapai 210 juta ton bijih basah per tahun dengan asumsi tidak terdapat penambahan smelter lebih lanjut. Alhasil, cadangan bijih dengan kandungan Ni lebih dari 1,7% akan habis pada tahun 2031.

Sementara jika digunakan bijih dengan kandungan Ni lebih dari 1,5%, maka cadangan bijih saprolite akan habis pada tahun 2036.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon