Kikisan Bukit Morowali di Kampung Mati, Sambut Era Kendaraan Listrik

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
Suasana Desa Fatufia, di dekat lokasi IMIP, Kecamatan Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. Kamis, 21 Juli 2022 | 10:34 WIB
Reporter: Fransiska Firlana Editor: Yuwono triatmojo

KONTAN.CO.ID - MOROWALI. Kehadiran  kawasan industri nikel di daerah Bahodopi, Kabupaten Morowali, telah mengubah wajah desa-desa di sekitarnya. Sebut saja Desa Bahodopi, Desa Keurea, dan Desa Fatufia. Geliat industri nikel membawa perubahan besar terhadap desa yang awalnya hanya berupa perbukitan dan rawa, bahkan hanya ada satu akses jalan yaitu jalan Trans Sulawesi.

"Kampung mati ini dulu, sepi sekali. Gunung, rawa, laut saja, " ujar Sarpan, warga Kendari yang mencari peruntungan rezeki di Morowali sejak industri tambang menggeliat.

Tapi sejak industri tambang masuk, pelan-pelan bukit-bukit dikikis. Tanah dan batu kikisan bukit digerus untuk meratakan dan memadatkan tanah rawa. Jalan-jalan lintas desa mulai dibangun seadanya.

"Tambang masuk di kampung kami sekitar tahun 2007, PT BDM. Lalu sekitar tahun 2009-2010 kami dengar ada perusahaan lain yang mau masuk, " jelas Abdul Latif, warga asli Desa Fatufia, Morowali.

Berselang 2-3 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 2012, hadir PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Morowali. Kabupaten Morowali yang kaya akan mineral nikel sebagai bahan baku utama baterai listrik (baterai EV), membawa perubahan besar bagi sosial ekonomi masyarakat di sana. 

Latif mengungkapkan, orang tuanya yang memiliki lahan cukup luas termasuk bukit juga melakukan hal yang sama dengan warga lain: menutup area rawa mereka dengan kikisan bukit. Bahkan, sebagian ruas tanahnya dihibahkan untuk jalan.

"Dulu tanah di sini tak ada harganya. Tanah bisa cuma dibarter pakai ikan atau beras, kalau mereka butuh makan kalau ada pesta,"  kenang Sarpan.

Roland, warga Ambon yang merantau ke Morowali tahun 2011 juga mengalami transaksi beli tanah dengan sistem barter pada tahun 2012. "Dulu ada orang mau ada pesta. Mereka mau lepas tanah tapi tak mau dibayar pakai uang. Mereka minta dikasih barang," katanya ramah.

Alhasil, Roland pun menukar tanah seluas 150 meter persegi dengan 5 karung beras. Isi setiap karungnya 50 kg beras. Harganya waktu itu Rp 65.000 per karung. Artinya, tanah seluas 150 meter persegi dihargai Rp 325.000 atau Rp 2.166 per meter persegi.

Beberapa tahun kemudian, sekitar tahun 2019, karena ada kebutuhan, Roland kemudian menjual tanah itu senilai Rp 25 juta.

"Tak heran kalau pendatang di Morowali banyak yang punya tanah karena waktu itu harganya murah dan bahkan bisa ditukar pakai barang seperti beras atau sepeda motor," imbuh Sarpan.

Namun seiring berjalannya waktu, kepemilikan tanah di Morowali bak tambang emas. Pengikisan bukit makin masif dilakukan untuk memadatkan kawasan rawa, bahkan untuk mereklamasi laut untuk dijadikan daratan.

Sarpan mengingat, tahun 2010, harga tanah di desa-desa kawasan tambang hanya Rp 12.000 per meter persegi. Lalu naik lagi di kisaran Rp 200.000 per meter persegi. "Nah kalau sekarang, yang di pinggir jalan itu bisa Rp 800.000 sampai Rp 1 juta per meter," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon