Bantuan Berbagai Armada Transportasi Mengalir Untuk Desa di Sekitar Kawasan IMIP

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
Warga melintasi mobil ambulans CSR dari IMIP di Bahodopi, Morowali, Sulawesi Tengah. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis) Rabu, 27 Juli 2022 | 08:24 WIB
Reporter: Fransiska Firlana Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - MOROWALI. Satu unit eskavator berwarna kuning terparkir di salah satu sisi halaman rumah milik Abdul Latif. Alat berat itu masih baru. Joknya saja masih dilapisi plastik pembungkus.

“Baru saja diantar. Ini bantuan CSR (corporate social responsibility-red) dari PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) yang kami ajukan beberapa waktu lalu,” ujar Abdul Latif, aktivis pemuda Desa Fatufia, Kecamatan Bahodopi Kabupaten Morowali Jumat (22/7).

Abdul mengungkapkan, desanya mengajukan bantuan eskavator karena alat itu digunakan untuk meratakan tanah. Kebetulan hingga saat ini aktivitas perataan tanah masih berlangsung di desanya. 

Desa yang dulunya berupa rawa dan perbukitan itu kini berlahan menjadi daratan yang ramai penduduk. Bukit-bukit dikikis untuk memadatkan kawasan rawa bahkan sebagian pantai.

Kebutuhan lahan yang datar di kawasan ini memang masih sangat besar seiring dengan kemajuan ekonomi masyarakatnya. Karena itu, alat berat berupa eskavator ini sangat diperlukan bagi masyarakat sekitar.

Baca Juga: Jumlah ATM Terbatas, Kios Agen Layanan Perbankan jadi Andalan Karyawan di IMIP

Abdul mengungkapkan, selain eskavator, beberapa bulan lalu desanya juga mendapatkan satu unit ambulans, satu unit bus 30 seat, dan enam dump untuk sampah. Selain itu ada truk 6 roda untuk angkutan sampah sebanyak dua unit dan dua unit sepeda motor tiga roda.

Permintaan bantuan armada transportasi itu diajukan ke IMIP sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Enam dump sampah diperlukan karena seiring dengan perkembangan kawasan dan pertambahan jumlah penduduk di Desa Fatufia, sampah menjadi masalah serius di wilayah itu.

“Kalau ambulans kita butuh karena akses transportasi umum di Bahodopi masih terbatas. Kalau ada yang sakit atau meninggal mereka harus sewa travel. Jarak ke rumah sakit juga jauh. Bisa 1 jam perjalanan. Jadi dengan ambulans, warga kami bisa dimudahkan akses dan irit biaya,” jelas Abdul.

Sementara bus dibutuhkan juga karena faktor akses transportasi umum di Bahodopi yang minim. Menurut Abdul, bus itu dibutuhkan antara untuk akses anak-anak sekolah yang akan mengadakan kunjungan belajar.

Selain itu juga untuk masyarakat yang ingin melakukan kegiatan kemasyarakat seperti melayat, menghadiri acara-acara di luar kecamatan Bahodopi, atau sekadar untuk menghadiri hajatan secara rombongan.

Desa Fatufia merupakan salah satu desa lingkar tambang di kawasan IMIP. Abdul menyebut, desa lingkar tambang IMIP ada 12 desa yaitu Le-le, Dampala, Siumbatu, Lalampu, Bahodopi, Baho Makmur, Keurea, Fatufia, Labota, Bete-Bete, Padabahao, dan Mekartijaya.

“Setiap desa bantuan CSR berbeda-beda, sesuai kebutuhan mereka masing-masing,” jelas Abdul yang merelakan sebagian halaman rumahnya untuk kandang armada-armada bantuan itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon