Kadin Sebut Pendanaan dan Teknologi Jadi Kendala Besar Pengembangan EBT

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri ( KADIN) Indonesia, Arsjad Rasjid. Kadin Sebut Pendanaan dan Teknologi Jadi Kendala Besar Pengembangan EBT. Minggu, 31 Juli 2022 | 11:39 WIB
Reporter: Noverius Laoli Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID -  JAKARTA. Pengembangan industri hijau di Indonesia punya masa depan yang cerah. Indonesia dikenal kaya akan energi baru dan terbarukan (EBT) seperti energi surya, pembangkit listrik tenaga air, panas bumi dan angin. 

Selain itu, pengembangan EBT juga berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Data Bappenas menunjukkan skenario tinggi Low Carbon Dovelopment Index (LCDI) akan memberikan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,6% hingga 2024 dan diharapkan mencapai 6,0% pada 2045. 

Namun kendala besar dalam memanfaatkan potensi ini adalah pendanaan dan teknologi.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Arsjad Rasjid, mengatakan, dengan pertumbuhan yang menjanjikan seperti ini, Indonesia berpotensi menambahkan Rp 5,4 triliun ke Produk Domestik Bruto (PDB).

Kemudian membuka lebih dari 15,3 juta pekerjaan tambahan seputar industri hijau dan menurunkan kemiskinan menjadi 4,2% dari 9,8% pada tahun 2018.

"Hal ini juga berarti peningkatan kualitas udara yang dihasilkan dari mencegah hilangnya 16 juta hektar lahan hutan," ujar Arsjad menjawab pertanyaan KONTAN dalam keterangan tertulis belum lama ini.

Baca Juga: Ketua Umum Kadin Optimistis Pengembangan Industri Hijau di Indonesia ke Arah Positif

Prospek pengembangan industri hijau ini juga diharapkan akan menghasilkan pengurangan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sekitar 43% di tahun 2030, melebihi target iklim nasional bersarat (NDC) Indonesia yaitu sebesar 41% di bawah baseline.

"Tentunya pengembangan ini juga dapat diterapkan pada pembangunan dan pengembangan IKN (Ibu Kota Negara). Dengan penerapan industri hijau, program pengurangan emisi karbon yang signifikan dan transisi yang progresif, dari energi penyumbang karbon menjadi energi yang ramah lingkungan, lebih hijau dan berkelanjutan," ucap Arsjad.

Dengan prospek yang menarik ini, Arsjad mengungkapkan kendala yang dihadapi dunia usaha. Ia bilang, kendala terbesar yang sering dihadapi adalah pendanaan dan teknologi. Menurutnya, kerja sama dan kemitraan antar publik dan swasta dapat menjadi kunci dalam menghadapi kedua tantangan tersebut. 

"Pemberian insentif seperti pajak dan tarif juga penting untuk mengakselerasi pemberdayaan EBT di Indonesia; dengan membuat EBT kompetitif dibandingkan dengan energi fosil dan membentuk pasar yang menarik bagi investor," sebutnya.

Baca Juga: Widodo Makmur Perkasa Optimistis Bisa Capai Efisiensi Hingga 20% dari Energi Hijau

Selain itu, Arsjad melanjutkan, saat ini masih banyak diperlukan teknologi dan penelitian serta pengembangan/litbang yang dapat diterapkan sesuai dengan kebutuhan industri nasional.

Industri masih banyak yang menggunakan teknologi absolut sehingga dibutuhkan restrukturisasi proses dan permesinan untuk meningkatkan efisiensi produksi.

Jadi, selain suku bunga bank komersil yang masih tinggi, industri permesinan nasional untuk mendukung pengembangan industri hijau pun memang masih harus dipacu.

"Kami pun dari dunia usaha berharap agar kualitas dan kompetensi SDM industri hijau ini bisa terus ditingkatkan," harapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon