Tidak Hanya Nikel, Baterai Kendaraan Listrik Juga Menggunakan Besi, Ini Perbedaannya

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
Pekerja merakit motor listrik Alessa eX3000 di pabrik PT Alessa Motors Nusantara di Cikarang, Jawa Barat, Kamis (14/7/2022). KONTAN/Carolus Agus Waluyo Kamis, 28 Juli 2022 | 10:14 WIB
Reporter: Tedy Gumilar Editor: Tedy Gumilar

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia boleh berbangga diri lantaran menjadi pemilik cadangan nikel terbesar di dunia. Inilah yang kemudian menjadi modal utama untuk membangun industri baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV).

Namun, nikel bukan satu-satunya bahan baku utama baterai mobil listrik. China, produsen baterai kendaraan listrik terbesar di dunia juga mengembangkan dan memproduksi baterai berbahan baku selain nikel. 

Ada beberapa jenis sel baterai lithium berdasar bahan bakunya yang sudah dikembangkan dan diproduksi di dunia. Namun, yang paling umum dan banyak digunakan adalah baterai kendaraan listik yang berbasis nikel dan baterai EV berbasis fero atau besi.

Indonesia memilih mengembangkan baterai kendaraan listrik berbasis nikel-mangan-kobalt, atau NMC battery. Selain kaya akan nikel, negeri ini juga punya cadangan mangan yang cukup besar dan sedikit kobalt.

Sementara China saat ini agresif menggeber industri baterai kendaraan listrik berbasis besi. Nama jenis baterainya lithium ferrophosphate battery atau LFP battery. Hal ini lantaran negeri tirai bambu itu memiliki bahan baku bijih besi dan fosfat dalam jumlah besar.

Baca Juga: Bangun Industri Baterai EV Berbasis Nikel, Indonesia Bakal Berhadapan dengan China

Asal tahu saja, kebanyakan produsen motor listrik di Indonesia saat ini menggunakan baterai berbasis fero. Bus listrik yang kini sudah wira-wiri di jalanan Jakarta juga menggunakan jenis LFP battery.

Hermawan Wijaya, Direktur Marketing PT International Chemical Industry saat ditemui KONTAN di Pameran kendaraan listrik Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2022, Senin (25/7) menyebut, pihaknya juga memproduksi baterai EV berbasis ferrophosphate.

Lantas, bisakah baterai EV berbasis nikel bikinan Indonesia bersaing dengan baterai kendaraan listrik berbasis besi atau bahan lainnya?

Perbedaan di sisi keamanan

Faktanya, setiap jenis sel baterai memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Untuk mendapatkan gambaran yang jelas, KONTAN mewawancarai tiga sumber pada waktu dan kesempatan terpisah; Hermawan Wijaya, Direktur Utama Indonesia Battery Corportation (IBC) Toto Nugroho dan CEO & Co-Founder PT Alessa Motors Nusantara Tindjaja Soetadji.

Soetadji dan Hermawan memaparkan, salah satu kelebihan baterai EV berbasis fero atau LFP battery adalah sifatnya yang tidak gampang meledak. Sehingga dianggap lebih aman sehingga dianggap lebih aman ketimbang baterai mobil listrik berbasis nikel.

"Kalau bocor atau rusak, baterai LFP itu tidak menggelembung dan hanya mengeluarkan cairan," ujar Hermawan.

Baca Juga: IBC, Ujung Tombak Industri Baterai Kendaraan Listrik Terintegrasi di Indonesia

Sementara baterai EV berbasis nikel atau NMC battery punya kekurangan di sisi temperatur. Dus, pabrikan seperti Tesla, kata Soetadji, mengakalinya dengan membenamkan teknologi temperature management

Cara kerjanya, saat mobil listrik digunakan di negara musim dingin, fitur ini akan bekerja untuk menghangatkan sel baterai. Sementara di daerah tropis seperti Indonesia, temperature management akan bekerja untuk mendinginkan baterai.

"Dampaknya, ada sekian persen energi yang terpakai untuk heating atau cooling," kata Soetadji kepada KONTAN, Rabu (27/7).

Untungnya, baterai EV berbasis nikel punya density yang jauh lebih baik ketimbang LFP battery. Singkatnya, energi yang disimpan di baterai kendaraan listrik berbasis nikel jauh lebih besar ketimbang yang berbasis fero.

Efeknya, ukuran kemasan baterai atau kotak penyimpanan sel baterai yang berbasis nikel bisa lebih kecil ketimbang yang berbasis fero. Bobot LFP battery juga lebih berat karena energy density-nya tidak setinggi nikel. Selain itu, jarak tempuh kendaraan yang menggunakan sel baterai berbasis nikel juga lebih jauh.

Perbedaan di sisi harga baterai EV

Perbedaan lainnya ada di sisi biaya. Ada beberapa komponen perhitungan untuk sampai pada kesimpulan harga baterai kendaraan listrik jenis apa yang lebih murah atau lebih mahal. 

Harga baterai kendaraan listrik dihitung berdasarkan kapasitas daya per kilowatt hour (kWh). Soetadji bilang, motor listrik rata-rata menggunakan baterai berdaya 1,5 kWh. 

Sementara mobil roda empat rata-rata memakai baterai berdaya 50 kWh hingga 100 kWh. Untuk bus listrik bisa sampai 200 kWh. 

Harga baterai kendaraan listik per kWh ini sangat bergantung pada harga komoditas yang menjadi bahan bakunya. Pada saat harga komoditas nikel jauh lebih mahal ketimbang besi, tentu harga baterai berbasis nikel jadi lebih mahal.

Meski demikian, menurut Soetadji, dalam posisi saat ini harga NMC battery dan LFP battery hanya beda-beda tipis. Secara umum, harga baterai EV ada di sekitar US$ 250 per kWh.

Dus, secara sederhana, jika dirupiahkan harga baterai motor listrik berdaya 1,5 kWh saat ini mencapai sekitar Rp 5,63 juta (kurs Jisdor BI per 27 Juli 2022, Rp 15.020 per USD). 

Sementara harga baterai mobil listrik roda empat berdaya 50-100 kWh antara Rp 187,75 juta hingga Rp 375,50 juta. Harga baterai bus listrik berdaya 200 kWh jauh lebih mahal lagi, mencapai Rp 751 juta.

Asal tahu saja, ada komponen utama kendaraan listrik; drivetrain atau sistem kerja yang menyalurkan tenaga ke roda, baterai dan control unit.

"Sekitar 30% hingga 40% harga mobil listrik itu berasal dari harga baterainya," kata Toto.

Baca Juga: Menelisik Persoalan Pengelolaan Limbah Pabrik Prekursor Katoda Baterai Litium

Nah, faktor lain yang mempengaruhi biaya yang harus ditanggung pengguna kendaraan listrik adalah di sisi battery life cycle. Satu kali life cycle dihitung dari full discharge (pengisian penuh) hingga recharge (pengisian ulang).

Di sisi ini, imbuh Hermawan, LFP battery punya keunggulan lantaran masa pakainya bisa mencapai 2.000 hingga 3.000 cycle. Untuk pemakaian harian, LFP battery bisa digunakan antara enam hingga 10 tahun. 

Sementara masa pakai NMC battery lebih pendek, antara 1.000 hingga 1.500 cycle. Sehingga jika kendaraannya dipakai harian, baterai tersebut bisa bertahan hingga lima tahun.

Singkat kata, dalam kondisi pemakaian dan perawatan yang setara, pengguna kendaraan listrik yang baterainya berbasis nikel akan lebih sering mengganti baterai dibanding jika menggunakan baterai berbasis fero.

Bergantung penggunaan dan jenis kendaraan

Perbedaan-perbedaan tadi membuat pabrikan kendaraan listrik mengaplikasikan jenis baterai bergantung pada penggunaan dan jenis kendaraannya. 

Sepeda dan motor listrik yang digunakan untuk jarak dekat dan baterry pack-nya lebih rawan terkena benturan dari luar, lebih banyak menggunakan baterai berbasis fero atau jenis LFP battery.

Sementara dengan pertimbangan biaya, mobil-mobil komersial seperti bus listrik juga menggunakan jenis LFP battery.

Namun, personal car yang mengutamakan performance, power dan kenyamanan akan lebih cocok menggunakan baterai berbasis nikel.

"NMC battery bagus untuk mobil yang high performance dan jarak jauh. Personal vehicle seperti yang dirilis Hyundai dan Tesla lebih bagus menggunakan NMC," ujar Toto.

Baca Juga: Berkat Baterai EV, Nikel Kadar Rendah Bakal Naik Status dari Paria Jadi Primadona

Jangan lupa, C-rate baterai lithium berbasis nikel juga jauh lebih baik ketimbang baterai berbasis bahan lainnya.  Sederhananya, semakin tinggi C-rate, semakin singkat pula waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya.

"Kendaraan yang menggunakan LFP battery dengan C-rate sampai 3 itu sudah sangat baik. Kalau buat solar panel ESS-nya (energy storage system) pakainya 0,5C atau 1C. Makanya dia bisa lebih awet dan murah," tukas Soetadji.

Sementara kendaraan listrik yang menggunakan NCM battery, C-rate nya bisa dengan mudah mencapai 5C-6C. Bahkan, kata Soetadji, ada perusahaan di Hong Hong yang mengklaim NCM battery bikinannya bisa mencapai 15C sehingga untuk pengisian daya hanya dibutuhkan waktu sekitar 4 menit.

Terlepas dari berbagai perbandingan di atas, Toto yakin, seiring perkembangan industri kendaraan listrik yang begitu pesat, baterai berbasis nikel akan tetap menjadi pilihan utama. Sebagai gambaran, saat ini baru 14% nikel yang diproduksi menjadi baterai EV. Pada 2030, diprediksi 40% produksi nikel akan dimanfaatkan di industri baterai kendaraan listrik. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon