Jelajah Ekonomi Hijau: Ingin Mengerem Impor BBM, Indonesia Memacu Kendaraan Listrik

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
Jumat, 22 Juli 2022 | 09:16 WIB
Reporter: Asnil Bambani Amri, Yudho Winarto Editor: Sandy Baskoro

KONTAN.CO.ID - CIKARANG. Taman-taman minimalis nan sejuk menjadi pemandangan khas saat Tim Jelajah Ekonomi Hijau KONTAN memasuki pabrik manufaktur PT Hyundai Motor Manufacturing Indonesia (HMMI) di kawasan Deltamas, Cikarang Bekasi, pekan lalu. Pabrik ini disebut-sebut bakal memainkan peran penting dalam industri otomotif nasional, khususnya kendaraan listrik.

Deru pengembangan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) semakin kencang. Hal ini seiring dengan krisis energi di tengah isu geopolitik global. Kini, harga minyak mentah dunia berada di level US$ 100 per barel. Kondisi itu menciptakan dampak bagi harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia. 

Pasalnya, porsi minyak mentah berkontribusi hingga 60% terhadap komponen pembentukan biaya produksi BBM. Belum lagi, adanya ketidakseimbangan antara produksi dan permintaan, yang memaksa Indonesia harus mengimpor ratusan ribu barel minyak. 

Baca Juga: Kemenperin Optimistis Target Pengembangan Kendaraan Listrik hingga 2030 Tercapai

Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto menuturkan, jalan untuk beralih dari kendaraan konvensional BBM ke kendaraan listrik mendesak. Kendaraan listrik adalah bagian dari desain besar transisi energi dari energi fosil ke energi baru terbarukan (EBT).

Bila pemakaian kendaraan listrik semakin meningkat, maka impor BBM pun akan terus berkurang dari tahun ke tahun. Pada 2025, menurut dia, impor BBM bisa ditekan sampai 37.000 barel per hari (bph).

Lalu, pada 2030 kembali bisa ditekan sampai posisi 67.000 bph. "Dan impor BBM bisa berkurang hingga 299.000 barel per hari di tahun 2040," kata Djoko kepada KONTAN, belum lama ini. Selain menekan impor BBM, kata dia, penggunaan kendaraan listrik akan berdampak baik pada lingkungan. "Juga memenuhi Paris Agreement yang telah diteken Presiden untuk mengurangi pemanasan global," jelas dia.

Baca Juga: Merta Pudak Wangi, Dupa dari Tabanan yang Kian Harum Terbawa Booming Digitalisasi

Dari sisi keuangan negara, dengan beralihnya masyarakat ke kendaraan listrik, maka subsidi pada BBM bisa ditekan secara signifikan, sehingga menghemat miliaran devisa.

Mengacu Grand Strategi Energi hingga 2030, apabila ada 13 juta motor listrik dan 2 juta mobil listrik beroperasi pada 2030, maka bisa menghemat devisa rata-rata sekitar US$ 1 miliar per tahun atau Rp 14,4 triliun (kurs Rp 14.400 per US$). 

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat pertahanan Kementerian Perindustrian, Hendro Martono menambahkan, pada roadmap KBLBB dengan asumsi 600.000 unit roda empat diharapkan menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton dan mengurangi konsumsi BBM sebesar 7,5 juta barel. Sedangkan untuk roda dua, dengan 2,45 juta unit akan berkontribusi menurunkan 1,1 juta ton emisi CO2 dan mengurangi konsumsi BBM sebesar 3 juta barel.

Baca Juga: Reviewer Otomotif Fitra Eri Beberkan 5 Kelebihan Mobil Listrik, Apa Saja?

Sebenarnya pemerintah sudah siap memacu pengembangan kendaraan listrik sejak tiga tahun lalu. Langkah itu tecermin melalui Peraturan Presiden (Perpers) No 55/2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.

Beleid ini mengatur tingkat komponen dalam negeri (TKDN) kendaraan listrik. Misalnya, kendaraan listrik roda 4 dengan TKDN minimum 35% di 2021, TKDN minimum 40% di 2023, dan TKDN minimum 80% di 2030. "Tren otomotif mengalami perubahan besar dengan kehadiran kendaraan listrik. Indonesia tak ingin hanya menjadi konsumen, namun bertekad menjadi pemain utama. Ekosistem pun disiapkan," ujar Djoko.

Pemerintah menargetkan produksi KBLBB pada 2030 mencapai 600.000 unit untuk roda empat dan 2,45 juta unit untuk roda dua.

Baca Juga: BBM Mahal, DEN: Pengembangan Kendaraan Listrik Semakin Mendesak

Saat ini ada empat industri bus listrik dengan kapasitas produksi 2.480 unit per tahun, tiga industri mobil listrik kapasitas produksi 13.000 unit per tahun, dan 32 industri sepeda motor listrik dengan kapasitas produksi 1,04 juta unit per tahun.

"Insentif yang diberikan pemerintah telah menarik tumbuhnya industri kendaraan listrik dalam negeri yang bisa dilihat dengan tumbuhnya 11 industri kendaraan listrik baru pada periode 2021 sampai Juli 2022,” kata Hendro.

Pemerintah juga berupaya mengerek industri hilirisasi dengan cara menarik investasi industri untuk tiga komponen utama KBLBB, yaitu baterai, motor listrik, dan PCU/inverter.

Baca Juga: Tiga Terobosoan Pengembangan Kendaraan Listrik Versi Indef

Saat ini telah ada industri hilir yang mampu memproduksi baterai cell lithium ion dengan izin kapasitas produksi 25 juta butir cell atau setara dengan 256 MWh per tahun.

Selain itu, ada konsorsium BUMN yang memiliki konsep integrated battery industry, mulai tahap pertambangan hingga produksi battery cell dan battery pack. Konsorsium itu mampu memproduksi baterai hingga 10 GWh per tahun. Baterai menjadi komponen penting dalam kendaraan listrik, yang mewakili 35% terhadap biaya produksi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon