Merta Pudak Wangi, Dupa dari Tabanan yang Kian Harum Terbawa Booming Digitalisasi

IWIP Kebut Pengembangan Kawasan Industri untuk Komponen Baterai Kendaraan Listrik
Pandemi COVID-19 di Indonesia mulai terkendali. Upacara Ngaben yang dilakukan di area Pantai Matahari Terbit, Sanur, pada Jumat (8/10/2021) dihelat dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kamis, 21 Juli 2022 | 09:25 WIB
Reporter: Bidara Pink Editor: Sandy Baskoro

KONTAN.CO.ID - TABANAN. Booming digitalisasi menghasilkan buah manis bagi kalangan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Di saat yang sama, transformasi ekonomi digital menjadi satu dari tiga agenda prioritas dalam KTT G20 tahun 2022 yang puncaknya berlangsung di Bali, pada akhir tahun nanti.

Transformasi digital juga menjadi momentum ekspansi bagi Merta Pudak Wangi, salah satu UMKM yang bergerak di bidang kerajinan dupa. Merta Pudak Wangi berbasis di Tabanan, Bali, pulau yang menjadi ikon wisata Indonesia dan kini mulai bangkit dari hantaman pandemi Covid-19 selama dua tahun terakhir. 

Dengan memanfaatkan produk digitalisasi, kerajinan dupa Merta Pudak Wangi yang sudah dirintis sejak akhir 2017 ini, berhasil menjangkau pasar luar Bali.

Baca Juga: Reviewer Otomotif Fitra Eri Beberkan 5 Kelebihan Mobil Listrik, Apa Saja?

Produk yang ditawarkan Merta Pudak Wangi adalah dupa yadnya (atau lebih awam dikenal sebagai dupa untuk acara keagamaan) dan juga dupa aroma terapi untuk mengharumkan ruangan. Dupa yang ditawarkan juga ada berbagai bentuk, baik bentuk stik maupun bubuk.  

Aroma yang digunakan adalah aroma-aroma herbal, seperti aroma kayu gaharu, cendana, majegau, menyan dan lain-lain. Merta Pudak Wangi menawarkan harga sekitar Rp 5.000 hingga Rp 85.000  per produk. Bahkan, Merta juga menerima custom dupa untuk berbagai kegiatan, sehingga pembeli bisa mengajukan permintaan untuk aroma, jenis pengemasan, dan harga yang diinginkan. 

Baca Juga: Gesits Jadi Motor Listrik Grab, SPBU Hayam Wuruk Bali Sediakan Swapping Station

Pendiri Merta Pudak Wangi, Ni Made Rini Wahyuni menyebut, awalnya ia menjual produk dari pintu ke pintu. Namun, karena alasan efisiensi dan terkait waktu, akhirnya ia menjajal untuk berjualan secara daring. 

"Karena waktu itu saya memiliki anak yang masih bayi, sepertinya tidak bisa door to door lagi untuk berjualan. Jadi, saya putar otak bagaimana bisa berjualan dari rumah," tutur Rini kepada KONTAN, belum lama ini. 

Ia mengawali jualan secara daring lewat Facebook dan Google Business. Dari sinilah, permintaan membanjiri, bahkan ada permintaan untuk mengirim kerajiban dupa ke Pulau Kalimantan. Lantaran kerepotan dengan penjualan via BlackBerry Messenger maupun WhatsApp, maka Rini memutuskan untuk berjualan di marketplace. 

Baca Juga: Desa Penglipuran dan Mimpi Besar Indonesia Merintis Pariwisata Berkelanjutan

Namun, bukan berarti berjualan secara daring membuat dia tak menemukan kendala. Rini mengaku saat berjualan di marketplace malah tidak segera balik modal. Ini karena banyak pembeli yang tidak segera mengakhiri pesanan sehingga dana banyak yang tertahan. 

Rini kembali memutar otak, bagaimana caranya agar penjualannya terus lancar. Akhirnya, ia mencoba aplikasi TikTok. Gayung bersambut, video produknya masuk ke For Your Page (FYP) TikTok dan disinilah produknya makin dikenal oleh masyarakat di luar Pulau Bali. 

"Bahkan tidak hanya membeli. Banyak teman-teman dari Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Cirebon yang ingin menjadi reseller. Sejak itu, saya merasa bahwa TikTok ini sebagai media yang cocok untuk bisnis saya," jelas Rini. 

Baca Juga: Perhelatan KTT G20 dan Momentum Kebangkitan Wisata Indonesia

Ia pun mulai menggunakan platform TikTok Shop untuk berjualan maupun memasarkan produknya. Untuk tetap menjaga traffic pengunjung ke akun TikToknya, Rini juga rajin mengunggah berbagai video berkaitan dengan kerajinan dupa miliknya. 

Dengan harga dan produk yang ditawarkan, serta strategi pemasaran tersebut, Rini awalnya bisa mengantongi hingga Rp 30 juta per bulan. Namun ia mengakui saat pandemi Covid-19 melanda pada awal 2020, omzet bulanan menyusut hingga setengahnya. 

Namun, berkat strategi digital yang ditekuninya, saat kondisi pandemi Covid-19 membaik, penjualan Merta Pudak Wangi sudah kembali meningkat dan kini ia bisa mengantongi sekitar Rp 20 juta per bulan. 

Baca Juga: BBM Mahal, DEN: Pengembangan Kendaraan Listrik Semakin Mendesak

Rini melanjutkan, kegigihan usaha dan bagaimana ia memanfaatkan digitalisasi dengan tepat, juga tak lepas dari peran PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), salah satu BUMN yang turut melakukan pembinaan ke kalangan pengusaha UMKM. 

Rini mengaku mendapatkan banyak manfaat dari bantuan Telkom Indonesia. Ia mengenang, saat itu pembina dari Telkom Indonesia membimbing dan mengarahkan bagaimana menggunakan Facebook maupun Instagram dalam berjualan. Tak hanya itu, TLKM memperluas relasi Merta Pudak Wangi. 

“Saya dijembatani untuk bertemu dengan kolega baru. Saya bertemu dengan banyak UMKM binaan, dan bahkan saya bertemu dengan kedinasan yang bertugas untuk BUMN. Saya juga bisa jadi trainer sekarang berkat Rumah BUMN,” kata Rini. 

Baca Juga: Tiga Terobosoan Pengembangan Kendaraan Listrik Versi Indef

Selain itu, Rini juga mendapatkan pendanaan dari Telkom Indonesia. Ia sudah mengambil dua kali kesempatan pendanaan tersebut. Produknya juga masuk ke dalam marketplace Padi UMKM, sehingga tentu saja menambah lapak bagi dia untuk menjual produknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait Jelajah Ekonomi Hijau Kontan
Jumat, 19 Agustus 2022 | 10:30 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:56 WIB EKONOMI HIJAU
Jumat, 19 Agustus 2022 | 09:44 WIB EKONOMI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:19 WIB ENERGI HIJAU
Kamis, 18 Agustus 2022 | 22:00 WIB ENERGI HIJAU
Didukung oleh:
Barito Pacifik
GSI International Tbk
Bank Bukopin
Pertamina
Widodo Makmur Perkasa
pupukkaltim
Bank Mandiri
PLN
BNI
Telkom
BRI
Bank Mandiri
Blue Bird
INPP
Tokio Marine
Hotel Santika
Canon